OTAK, STRES DAN RELAKSASI

OTAK, STRES DAN RELAKSASI

Otak merupakan organ terpenting dalam tubuh manusia.


Otak terbagi atas 4 area utama : 1. Kortek Serebri, 2. Otak tengah, 2. Batang Otak, merupakan pengendali sistem syaraf utama , 4. Serebulum (Otak Kecil), mengatur koordinasi gerakan kompleks. Pemacu Otak: Meditasi dan Latihan Relaksasi


Mekanisme meditasi dapat mempengaruhi kinerja otak antara lain:


1. Meditasi memiliki efek serupa dengan efek piracetam, yang memperlambat metabolisme otak. Hal ini memungkinkan neuron otak bekerja lebih efisien dan menggunakan lebih sedikit energi. Dan meditasi mempunyai kemampuan yang melebihi piracetam dan tanpa resiko efek samping.


2. Meditasi dapat menurunkan kadar laktat dalam darah. Laktat dalam darah yang berlebihan dapat menyebabkan kecemasan dan insomnia


3. Meditasi meningkatkan kadar dehidroepiandrosteron (DHEA) yaitu suatu penanda vitalitas otak.


4. Meditasi adalah sistem manajemen stress yang menurunkan tekanan darah, selain menurunkan kadar kolesterol, sehingga dapat menurunkan resiko arterosklerosis yang dapat memblokir arteri dan membatasi aliran darah ke otak.


Pengacau Otak: Stress dan Kecemasan


Respons “melawan-atau-kabur” terhadap stress ketakutan dan kecemasan merupakan impuls yang masih ada dan diperlukan oleh kita semua dan melibatkan interaksi yang kompleks antara yang kompleks antara seluruh otak dan tubuh.


Struktur Anatomi dari Ketakutan dan Kecemasan


Pemeran utama dalam otak yang memperantarai respons stress antara lain:


1. Sistem Limbik, Khususnya amigdala dan hipokampus


2. Serebelum


3. Korteks


4. Talamus


Amigdala merupakan pusat respon stress secara sadar. Bagian ini merupakan inti yang berbentuk buah badam pada sistem limbik yang terletak di ujung depan tiap hipokampus yang menuju korteks frontotemporal. Inti yang kecil ini memasukkan informasi, perasaan dan dorongan ke hipokampus, dan memasukkan sensori ke talamus.


Bagaimana Pikiran Mempengaruhi Tubuh Kita?


Ilmu yang mengkaji hubungan antara pikiran – tubuh disebut dengan berbagai nama, diantaranya psikoneuroimunologi, psikofisiologi atau ada yang menyebutnya neuropsikologi. Pada dasarnya semua itu mempelajari bagaimana pikiran, perasaan mempengaruhi sistem saraf dan selanjutnya mempengaruhi fungsi tubuh. Satu cara untuk menggali interaksi ini adalah dengan mengukur pengaruh stress.


Pengukuran yang umum adalah dengan mengukur kadar kortisol (hormon stress), fungsi imun, perbaikan luka, reaktifitas kardiovaskular (seberapa cepat dan seberapa tinggi tekanan darah seseorang serta denyut jantungnya dapat berespon terhadap stress). Banyak penelitian menunjukkan bagaimana stress secara negatif mempengaruhi sistem yang bekerja dalam tubuh. Perawatan dalam waktu lama secara signifikan menurunkan fungsi imun.


Istri yang ditinggalkan suaminya meninggal, butuh waktu setahun untuk memulihkan kesehatannya. Korban pemerkosaan dan orang yang mengalami stress pasca trauma menunjukkan peningkatan reaktifitas kardiovaskular serta fungsi kortisol yang abnormal. Luka yang hanya sebesar 3,5 mm butuh waktu penyembuhan selama 3 hari jika sedang menghadapi hari-hari ujian.


Pada kondisi sebaliknya, bermain kartu dengan teman beberapa jam dapat meningkatkan fungsi imun, tertawa dari hati dapat meningkatkan imunitas selama 12 jam sesudahnya. Latihan menurunkan reaktifitas kardiovaskular. Massage dan mendengarkan musik yang tenang, dapat menurunkan kadar kortisol.


Secara umum, stress, kehilangan, perawatan dalam waktu lama, kesepian, marah, trauma, hubungan rumah tangga yang bermasalah akan memberikan efek negatif dan lebih lanjut akan berpengaruh negatif pula terhadap fungsi tubuh. Tapi, para peneliti juga memastikan bahwa kita juga bisa secara positif mempengaruhi kesehatan kita dengan cinta, persahabatan, kehidupan spiritual, pandangan positif, meditasi, yoga, musik, seni atau memelihara hewan peliharaan.


Di dalam tubuh kita terdapat suatu senyawa kimiawi yang disebut neurotransmitter, yaitu suatu senyawa yang bertugas mengirimkan sinyal melalui sistem syaraf. Senyawa kimia ini berada di otak, tepatnya di akhiran sel syaraf. Tapi juga dapat ditemukan di organ lainnya, seperti di jantung, usus, sistem imun. Neurotransmitter dapat berdifusi ke dalam jaringan dan darah. Jika ingin dianalogikan, sistem syaraf itu sebagai suatu jaringan kabel telpon, mampu menyalurkan berbagai informasi dari satu tempat ke berbagai tempat lain dalam tubuh.


Inilah alasan kenapa respon yang terjadi di tubuh kita dapat terlihat di berbagai tempat yang berbeda di tubuh. Kenapa depresi, yang berhubungan dengan rendahnya kadar serotonin (sebuah neurotransmitter) di otak, juga menyebabkan penurunan fungsi imun dan penurunan fungsi usus besar. Dan kenapa antidepresan mempunyai efek samping pada sistem gastrointestinal. Kenapa terkadang perut terasa tidak enak ketika kita sedang cemas ? Karena neurotransmitter yang ada di usus dapat merupakan refleksi dari apa yang terjadi di kepala.


Penemuan neurotransmitter, sitokin, limfokin, peptide dan hormon beserta hubungan timbal baliknya terus meningkat setiap hari. Begitu juga, bagaimana senyawa-senyawa tersebut mempengaruhi berbagai kejadian dalam hidup kita dan bagaimana tubuh kita memilih untuk berespon terhadap kejadian tersebut telah berhasil dipahami.


Dulu kita memandang sistem imun sebagai suatu kekuatan pasif, menunggu menghadapi musuh, seperti bakteri, masuk menginvasi tubuh kita. Ternyata tidak cuma sebatas itu. Sistem imun merupakan sistem yang terintegrasi dalam tubuh. Reseptor kortisol yang ada di sel imun adalah jawaban dari bagaimana stress berpengaruh terhadap sistem imun dan reseptor neurotransmitter di sel imun adalah jawaban bagaimana mood mempengaruhi sistem imun. Oleh karena itu, jelaslah bagaimana stress dan mood bisa berpengaruh terhadap kesehatan kita.


Bisakah kita mempengaruhi proses fisiologi dalam tubuh ? Semenjak ditemukannya respon relaksasi, yaitu pada pernapasan yang tenang dapat menurunkan tekanan darah, ditemukan juga bukti yang cukup bahwa kita bisa mempengaruhi proses fisiologi tubuh kita. Bagaimana hal ini dapat terjadi ? Kita harus melihat kembali bagaimana kerja dasar otak kita. Jika kita tidak kidal, sisi otak sebelah kiri, yang memegang peran dalam berpikir linear, seperti logika dan matematika, lebih berkembang. Sedangkan sisi yang kanan lebih berhubungan dengan kreatifitas, gambar atau hubungan antar objek. Sisi kanan otak ini mempunyai koneksi yang padat dengan sistem limbik dan amigdala, bagian dari otak yang penting dalam emosi juga memori yang didapat dari panca indera kita. Sistem limbik ini selanjutnya mempunyai hubungan dengan hipotalamus. Pada salah satu jalur, hipotalamus mempengaruhi sistem nervus otonom, dimana ingatan yang menyenangkan diterjemahkan menjadi sinyal yang memerintahkan untuk menurunkan denyut jantung, tekanan darah, respirasi dan merelaksasi tonus otot. Sedangkan pada jalur yang lain, hipotalamus mengirim sinyal ke glandula pituitary, yang mengontrol hormon tubuh. Sinyal ini diterima glandula pituitary sebagai perintah untuk menurunkan kortisol,yang dikenal sebagai hormon stress. Pada gilirannya, hormon tersebut akan memberikan feed back positif kepada sistem imun untuk berfungsi optimum. Begitulah bagaimana kita mempengaruhi proses fisiologi tubuh kita. Melalui pikiran. Kejadian tersebut terjadi terus-menerus secara spontan setiap hari. Hebatnya lagi, kita juga dapat membuat kesan tanpa harus ada image yang nyata ada di hadapan kita. Karena pikiran tidak dapat membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya imajinasi belaka. Penelitian pada hasil scan otak menunjukkan ketika kita melihat gambar sebuah pohon atau ketika kita hanya membayangkan sebuah pohon, area otak yang sama menggambarkan pola yang sama pula.


Jadi dapat saja terjadi kita sakit karena berpikir ada penyakit dalam tubuh kita padahal sebenarnya penyakit itu tidak ada. Begitu juga sebaliknya. Ketika ada suatu penyakit dalam tubuh kita namun kita tidak berpikir kita sakit, bisa jadi kita tidak akan benar-benar jatuh sakit atau sakit yang kita derita tidak akan segera menjadi parah. Beberapa penelitian berhubungan dengan hal ini telah dilaporkan. Yang cukup sering adalah pada pasien kanker. Pada pasien yang diberikan pengobatan serta dorongan tentang penyakit yang dideritanya, diberi keyakinan bahwa penyakitnya tidak akan mematikan dan pasien tersebut yakin dan percaya akan hal itu, kemudian ia mampu terus mengembangkan pikiran positifnya, didapat besar sel kanker dalam tubuhnya mengecil bahkan ada yang hilang sama sekali. Namun pada pasien yang tidak percaya bahwa dia akan baik-baik saja, pasien tersebut pun tidak bertahan hidup lama.


Hasil dari proses fisiologi yang sama dapat berubah oleh pikiran yang kita miliki sewaktu proses masih berlangsung. Misalnya, seorang wanita sudah terlanjur berpikir bahwa dirinya mandul. Dia berpikir, “Saya tidak mungkin bisa hamil”. Padahal sebenarnya tidak. Dan pada akhirnya dia benar-benar tidak hamil, dan itu bukan karena dia infertile tapi hanya karena pikirannya. Keadaan ini tidak jarang dialami oleh banyak orang.


Pikiran dan emosi dapat menimbulkan penyakit sungguhan. Dan fenomena ini sebenarnya amat sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang yang datang ke praktek dokter karena gangguan-gangguan psikogenik (gangguan akibat emosi).


Mereka datang dengan berbagai keluhan yang sangat variatif namun setelah dilakukan anamnesis dan pemeriksaan, dokter tidak dapat mendiagnosis penyakit yang diderita si pasien. Akhirnya dokter akan mengirim pasien ke laboratorium untuk menjalani serentetan pemeriksaan, yang sebenarnya tidak perlu, dengan “harapan” akan menemukan “sesuatu” yang abnormal. Hal demikian tidak jarang terjadi karena memang tidak mudah membedakan antara penyakit yang disebabkan oleh masalah tubuh dengan yang disebabkan oleh stress emosi. Seperti telah dijelaskan di atas, hormon dan neurotransmitter yang berperan dalam timbulnya stress dapat menimbulkan efek di berbagai tempat di tubuh kita.


Jadi dengan berfikir positif dapat menjadikan kita sebagai pribadi yang kuat juga sehat.


 


Baca Juga
SHARE
Subscribe to get free updates

Related Posts