Pertahankan Ketuban Anda

Pertahankan Ketuban Anda

 


ARM atau Artificial Rupture Of Membran atau pemecahan ketuban adalah salah satu intervensi rutin dayng umum dilakukan oleh tenaga kesehatan selama proses persalinan. Namun, sebenarnya ARM tidak boleh dilakukan tanpa pemahaman yang baik tentang bagaimana kantung ketuban dan fungsi cairan ketuban dalam proses persalinan. Seorang ibu harus sepenuhnya diberitahu tentang risiko yang terkait intervensi ini sebelum ia menyetujui untuk melakukan ARM ini. Posting ini akan membahas bagaimana resiko ARM pada persalinan.


Anatomi dan fisiologi


Pada akhir kehamilan janin Anda dikelilingi oleh sekitar 500-1000ml Fluida/ cairan ketuban. janin juga berkontribusi terhadap jumlah air ketuban melalui sekresi urine dan saluran pernapasan ke dalam cairan. Cairan ketuban/cairan amnion terus-menerus diproduksi dan selalu baru – Bayi menelan cairan, melewati usus ke dalam sirkulasi bayi; kemudian dikirim keluar melalui plasenta. Proses ini terus berlanjut bahkan jika selaput ketuban telah pecah. Jadi sebenarnya, bahkan ketika ketuban sudah pecah, cairan ketuban tetap diproduksi oleh plasenta dan tubuh nah ini akan tergantung dengan bagaimana rehidrasi si ibu. Jadi sebenarnya tidak ada istilah ketuban kering bunda!


Beberapa penelitian menyatakan Cairan amnion pada keadaan normal berwarna putih agak keruh karena adanya campuran partikel solid yang terkandung di dalamnya yang berasal dari lanugo, sel epitel, dan material sebasea. Volume cairan amnion pada keadaan aterm adalah sekitar 800 ml, atau antara 400 ml -1500 ml dalam keadaan normal. Pada kehamilan 10 minggu rata-rata volume adalah 30 ml, dan kehamilan 20 minggu 300 ml, 30 minggu 600 ml. Pada kehamilan 30 minggu, cairan amnion lebih mendominasi dibandingkan dengan janin sendiri. Cairan amnion diproduksi oleh janin maupun ibu, dan keduanya memiliki peran tersendiri pada setiap usia kehamilan. Pada kehamilan awal, cairan amnion sebagian besar diproduksi oleh sekresi epitel selaput amnion.


Dengan bertambahnya usia kehamilan, produksi cairan amnion didominasi oleh kulit janin dengan cara difusi membran. Pada kehamilan 20 minggu, saat kulit janin mulai kehilangan permeabilitas, ginjal janin mengambil alih peran tersebut dalam memproduksi cairan amnion. Penelitian mengatakan sekitar 500 ml per hari cairan amnion di sekresikan dari urin janin dan 200 ml berasal dari cairan trakea. Pada penelitian dengan menggunakan radioisotop, terjadi pertukaran sekitar 500 ml per jam antara plasma ibu dan cairan amnion.


Membran ketuban juga mengandung korion  ini adalah membran di antara membran ketuban dan uterus. Membran ini tampaknya menempel seperti jadi satu dengan membrane luar. Namun sebenarnya bisa dipisahkan. Anda dapat mencoba untuk memisahkannya setelah plasenta keluar (*** Jika Anda bidan/dokter yang ingin membuktikannya).


Cairan ketuban/cairan amnion merupakan komponen penting bagi pertumbuhan dan perkembangan janin selama kehamilan. Pada awal embryogenesis, amnion merupakan perpanjangan dari matriks ekstraseluler dan di sana terjadi difusi dua arah antara janin dan cairan amnion. Pada usia kehamilan 8 minggu, terbentuk uretra dan ginjal janin mulai memproduksi urin. Selanjutnya janin mulai bisa menelan. Eksresi dari urin, sistem pernafasan, sistem digestivus, tali pusat dan permukaan plasenta menjadi sumber dari cairan amnion. Telah diketahui bahwa cairan amnion berfungsi sebagai kantong pelindung di sekitar janin yang memberikan ruang bagi janin untuk bergerak, tumbuh meratakan tekanan uterus pada partus, dan mencegah trauma mekanik dan trauma termal.


Cairan amnion juga berperan dalam sistem imun bawaan karena memiliki peptid antimikrobial terhadap beberapa jenis bakteri dan fungi patogen tertentu. Cairan amnion adalah 98% air dan elektrolit, protein , peptide, hormon, karbohidrat, dan lipid. Pada beberapa penelitian, komponen-komponen cairan amnion ditemukan memiliki fungsi sebagai biomarker potensial bagi abnormalitas-abnormalitas dalam kehamilan. Beberapa tahun belakangan, sejumlah protein dan peptide pada cairan amnion diketahui sebagai faktor pertumbuhan atau sitokin, dimana kadarnya akan berubah-ubah sesuai dengan usia kehamilan. Cairan amnion juga diduga memiliki potensi dalam pengembangan medikasi stem cell .


Selama kehamilan, ketuban melindungi dan mempersiapkan bayi dengan:


1. Sebagai Bantalan pelindung janin dari benturan keras.


2. Mempertahankan suhu janin agar tetap konstan.


3. Membiarkan gerakan janin lebih leluasa untuk perkembangan otot yang lebih sempurna


4. Menciptakan ruang untuk pertumbuhan.


5. Melindungi terhadap infeksi – membran memberikan penghalang + cairan mengandung peptida antimikroba.


6. Membantu pengembangan paru-paru dan organ-organ lain


7. Rasa dan bau – bau cairan ketuban telah ditemukan memiliki efek menenangkan pada bayi yang baru lahir (Varendia et al 1998.)


8. Setelah 40 minggu kehamilan sekitar 20% dari bayi akan mengeluarkan sedikiti mekonium ke dalam cairan ketuban mereka sebagai tanda bahwa perut mencapai kematangan dan mulai bekerja. Hal ini normal dan bukan merupakan tanda marabahaya. Mekonium ini diencerkan dan diproses dengan cairan ketuban seperti dijelaskan di atas.


Selama persalinan


Sekitar 80-90% dari ibu yang melahirkan, ketubannya utuh hingga pembukaan lengkap atau mendekati pembukaan lengkap. Hal ini mungkin karena kantung ketuban memainkan peran penting dalam fisiologi kelahiran alami.


Tekanan fluida secara Umum


Selama kontraksi cairan/ fluida akan menyamakan tekanan keseluruh bagian di dalam rahim sehingga dengan damikian tidak ada tekanan yang berlebihan di plasenta maupun tali pusat janin. Ini melindungi bayi dan membuat suplai oksigen ke janin tetap terjaga walaupun nya ada kontraksi rahim yang kuat. Ketika selaput ketuban telah pecah, maka plasenta dan janin mendapatkan dikompresi selama kontraksi. Kebanyakan bayi dapat mengatasi dengan baik tapi pengalaman kelahiran bagi janin mungkin tidak menyenangkan. Ketika plasenta dikompresi sirkulasi darah terganggu sehingga mengurangi pasokan oksigen ke janin. Selain itu, tali pusar mungkin dalam posisi di mana saat itu tali pusat terjepit diantara janin dan rahim ketika kontraksi terjadi. Ketika ini terjadi peningkatan detak jantung janin selama kontraksi sebagai respons terhadap aliran darah yang berkurang. Seorang janin yang sehat dapat mengatasi pengurangan pasokan oksigen intermiten selama berjam-jam (itu sedikit seperti menahan napas Anda selama 30 detik setiap beberapa menit). Namun, jika ini berlangsung lama maka Anda bisa membayangkan bagaimana rasanya.


ARM atau Artificial Rupture Of Membran atau pemecahan ketuban alias amniotomi


ARM atau Artificial Rupture Of Membran atau pemecahan ketuban alias amniotomi menggunakan Amni-hook adalah intervensi yang umum dilakukan selama persalinan. Ini biasanya merupakan langkah kedua dalam proses induksi, dan juga dilakukan dalam upaya untuk mempercepat persalinan spontan. Ketika di induksi, membran yang utuh dapat mencegah kontraksi artifisial yang diciptakan untuk mendapatkan pola yang efektif. Ada juga risiko teoritis dari induksi yang mengakibatkan sebuah kontraksi yang terlalu kuat memaksa cairan ketuban pecah / yaitu masuknya cairan ketuban ke sistem darah menyebabkan emboli ketuban dan kematian ibu.Jadi ARM dianjurkan jika sebelumnya di berikan infus syntocinon / pitocin dimulai.


Dalam persalinan spontan alasan untuk ARM adalah agar kepala bayi “terbawa”, semakin turun kemudia kepala bayi yang keras akan menerapkan tekanan langsung ke leher rahim dan membuat leher rahim membukanya lebih cepat. Namun, review Cochrane dari penelitian yang tersedia menyatakan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan adanya pemendekan waktu kala I persalinan dan dan justru tindakan ini meningkatkan kemungkinan peningkatan operasi caesar. Amniotomi rutin tidak dianjurkan


Ada juga risiko yang terkait dengan ARM:


1. Ini dapat meningkatkan intensitas kontraksi dan nyeri yang dapat menyebabkan wanita merasa tidak mampu mengatasinya sehingga terjadi gejolak emosi untuk memilih epidural, atau bahkan SC dengan alasan ingin segera mengakhiri “penderitaannya”.


2. Janin mungkin merasa sedih dan stress karena kompresi/tekanan pada plasenta bayi dan / atau tali pusat (seperti dijelaskan di atas).


3. Fok et al (2005) menemukan aliran pembuluh darah janin setelah amniotomi berubah, ini berarti menunjukkan ada respon stres janin setelah dilakukan ARM.


4. Meningkatkan resiko terjadinya tali pusat yang menumbung, sehingga tapi pusat terjepit antara kepala janin dengan segmen bawah rahim. Ini mengakibatkan Kompresi berlebihan pada tali pusat dan dapat menghentikan pasokan oksigen ke janin nah kalau sudah begini berarti janin harus dilahirkan secepatnya dengan SC.


5. Ada sedikit peningkatan risiko infeksi tapi kebanyakan untuk ibu (bukan bayi). Risiko ini akan minimal jika tidak ada yang dimasukkan ke dalam vagina selama persalinan (mis. tangan, instrumen dll).


Ringkasan Kantung ketuban dan cairan memainkan peran penting dalam memfasilitasi kelahiran dan melindungi bayi. Tidak ada bukti bahwa pemecahan kantung ketuban ini akan mengurangi lama persalinan. Sementara setiap intervensi tempat itu termasuk ARM, bidan perlu hati-hati mempertimbangkan risiko sebelum menawarkannya kepada ibu. Ibu juga harus diberi informasi yang lengkap tentang risiko sebelum memilih ARM selama persalinan mereka.


Nah semoga bermanfaat


Salam Hangat


Baca Juga
SHARE
Subscribe to get free updates

Related Posts

Posting Komentar